Label

Minggu, 10 Oktober 2010

Kunanti



Kunanti kedatanganmu
Tak sabar aku menunggu
Terbayang di hadapanku
Betapa indahnya engkau

Kau datang kepadaku
Seiring hembusan angin lalu
Girang rasa hati ini
Menapakkan kaki kali pertama

Namun aku tertunduk lesu
Api membakar dada
Langit serasa berputar
Langkah serasa berat

Inikah yang kunanti
Inikah yang kumimpi
Semua tiada berarti
Hancur lebur terbawa angan

Selasa, 05 Oktober 2010

Komitmen



Aku lakukan sepenuh hati
Dengan segenap kemampuan
Menggenggam dengan erat
Menggigit dengan kuat


Kulihat sekelilingku
Kupandang dengan sendu
Inikah janjimu yang dulu
Mengabdi dengan tulus


Sadarkah engkau
Telah berjalan berbelok
Dari niatanmu yang mulia
Menuju kegelapan yang pekat

Minggu, 03 Oktober 2010

Kesedihan Hati



Langit mendung di ufuk barat
Mengiringi kepergianmu
Seorang mujadid yang lurus
Yang turun tiap 100 tahun sekali


Kesedihan menyelimuti hati
Wajah-wajah sayu memendam
Tetesan air mata mengiringi
Dada terasa kosong hampa


Saat Pembaru berguguran
Tiada pengganti yang pantas
Generasi muda belum siap
Ilmu dan mental belum mantab


Apakah kamu akan kembali
Pada kebodohanmu yang dulu
Atau kamu tetap bertahan
Berjuang menegakkan tiang yang ada


Sungguh ilmumu tiada terbalas
Walau oleh seisi dunia ini
Moga Allah menempatkanmu
Di tempat yang terbaik lagi mulia

Puisi ini aku persembahkan kepada almarhum KH Abdullah Sattar Madjid Ilyas yang wafat pada hari Sabtu, 02 Oktober 2010. Beliau telah berjuang menegakkan agama ini hingga akhir hayatnya. Moga Allah menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni segala dosanya.

Selasa, 09 Februari 2010

Air Tanah


Kami tiba di stasiun Jatinegara sekitar jam 7 pagi. Telah menunggu dua mobil jemputan di depan stasiun, satu Daihatsu Luxio warna hitam dan satu Daihatsu Xenia warna perak. Acara kami ke Jakarta hari itu adalah untuk menghadiri pernikahan salah satu teman Jurusan sekaligus jalan-jalan. Kami segera meletakkan barang bawaan kami ke dalam mobil. Mobil Xenia yang kami naiki terasa sempit karena biasanya mobil itu hanya muat 7 orang plus sopir. Akan tetapi saat itu kami ada 8 orang plus sopir. Aku duduk di jok belakang bertiga, 4 orang berdesakkan duduk di jok tengah, sedang 1 orang lagi duduk di depan bersama sopir.
 
Mobil pun melaju menuju wisma yang telah kami booking yaitu wisma Pusat Bahasa Universitas Negeri Jakarta. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke wisma. Wisma yang kami tempati itu terlihat sederhana saja, seperti wisma-wisma yang dimiliki oleh Universitas Negeri yang lain. Namun wisma ini lebih baik daripada wisma kampusku yang terlihat kumuh dan tak tertata rapi. Kebetulan aku dapat kamar di lantai 2 bersama salah satu karyawan prodiku. Ketika aku masuk ke dalam, kamarnya terlihat bersih. Ada 2 tempat tidur di situ yang terpisah dengan meja dan kursi di tengahnya. Aku memilih tempat tidur yang berada di sebelah pintu masuk. Di sebelah tempat tidurku ada lemari besar untuk menyimpan pakaian. Di pojok sebelah kanan pintu masuk ada kamar mandi. Pas di depan kamar mandi ada tempat gantungan handuk.

Aku letakkan tasku di samping meja kemudian aku merebahkan diri ke tempat tidur. Capek sekali rasanya, naik Kereta Api (KA) Bisnis Gumarang selama sekitar 12 jam. Selagi merebahkan diri di atas tempat tidur, aku ngobrol dengan teman sekamarku selama kurang lebih 1 jam. Setelah itu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika aku masuk di dalam kamar mandi, aku melihat keran air dari plastik tepat di depanku. Di bawahnya terdapat ember air plastik yang berisi sedikit air. Di samping kanan ember tersebut terdapat kloset duduk untuk buang air besar. Di depan kloset itu terpasang sebuah wastafel dengan cermin di atasnya. Aku berjalan ke wastafel tersebut dan meletakkan alat-alat mandiku yang aku bawa dari rumah diatasnya. Setelah melepas pakaian aku membuka keran air dan meraih gayung yang ada di dalam ember plastik tadi. Aku mulai mandi. Saat air menyentuh tubuhku, aku merasa airnya dingin. Tapi lama-kelamaan airnya jadi hangat. Aku merasa aneh karena sejak tadi pagi, matahari tertutup awan alias mendung jadi nggak mungkin airnya jadi hangat. Lalu terlintas di benakku kalau kamar mandinya dilengkapi dengan pemanas sehingga aku nggak memikirkan masalah itu lagi. Setelah membasahi seluruh tubuhku, aku menganbil sabun cair dan washlap yang biasa aku gunakan dan mulai membersihkan badanku. Aku menyiram tubuhku dengan air untuk membersihkan sabun yang telah aku basuhkan ke badanku tadi. Aku menyiramnya beberapa kali tapi badanku masih terasa licin. Sabunnya masih terasa menempel di tubuhku. Aku coba bersihkan sekali lagi, namun tetap saja nggak bisa keset. Karena tidak bersih-bersih juga, aku langsung mengambil handuk dan menyeka badanku lalu berpakaian.

Saat sedang santai, aku iseng-iseng bertanya kepada salah seorang teman.
"Waktu mandi tadi kok terasa nggak bisa bersih ya? Apa karena sabun cairku yang nggak bagus? Airnya juga terasa hangat. Apa ada pemanasnya?" Begitu pikirku pada awalnya.
"Sama, aku juga begitu. Memang nggak akan bisa keset. Disini pake air tanah dan airnya berbeda dengan di Surabaya. Kalau nggak salah orang menyebutnya air sadah." Jawabnya menjelaskan.
"Trus, kenapa kok airnya terasa hangat?" Tanyaku lebih lanjut.
"Ya itu tadi. Jenis tanahnya yang berbeda. Tanahnya cenderung hangat." Jawabnya meyakinkanku.

Sebenarnya aku belum puas dengan jawaban dia. Aku ingin tahu lebih banyak lagi, tapi sampai sekarang aku belum menemukan orang yang bisa menjelaskan secara detail dan ilmiah.











Minggu, 31 Januari 2010

Copet


Ada 8 orang dalam rombangan kami. Pagi itu kami berencana pergi ke Jogja. Sudah sekitar 6 bulan kami belum menjenguk Simbah. Pastinya beliau sangat kangen dengan kami. Hal itu terbukti dengan adanya telpon dari mas Wahid. Kebetulan masku yang satu ini tinggal di Jogja bersama Simbah. Dia diberi tugas khusus untuk merawat Simbah karena beliau sudah sepuh dan tidak ada yang menemani. Bapak sendiri sebagai putra satu-satunya masih belum bisa merawat Simbah. Dia mengatakan bahwa kami sekeluarga diharapkan segera datang berkunjung karena Simbah kangen sekali dengan keluarga di Surabaya terutama dengan Bapak. Maklum saja, Bapak adalah anak satu-satunya.

Setelah sekitar setengah jam kami menunggu, kereta api (KA) yang kami tunggu akhirnya datang juga. Pagi itu kami naik kereta api Pasundan yang berangkat pagi pukul 6. Kami memilih KA ini karena beberapa alasan. Yang pertama KA ini berangkat dari Surabaya sehingga tempat duduk pasti masih kosong. Yang kedua KA ini yang paling tertib dibandingkan dengan KA ekonomi yang lain. Selain petugas keamanan sering mondar-mandir untuk inspeksi, datangnya pun tepat waktu. Kami berangkat pukul 6 pagi dan tiba di Jogja pukul 12 siang. Hanya menempuh waktu 6 jam saja. Bandingkan dengan KA ekonomi lain yang sering telat dan butuh waktu sekitar 7 jam bahkan bisa sampai 8 jam. KA ini sepengetahuanku juga satu-satunya yang memberikan nomor tempat duduk untuk kelas ekonomi. Alasan yang terakhir, KA ini murah meriah. Hanya dengan membayar nggak lebih dari 20 ribu, kita bisa sampai di Jogja. Coba bandingkan harganya dengan tiket bis atau pesawat yang berlipat-lipat. Bener-bener jauh berbeda.

KA datang tepat waktu sekitar jam 6 pagi. Penumpang berdesakan masuk ke dalam KA. Saat itu penumpang nggak begitu banyak. Lagian aku nggak khawatir tidak dapat tempat duduk, karena ada tiket dan nomor seatnya. Kebetulan aku membawa 2 tas. Satu tas berisi laptop aku letakkan di depan dan satu lagi berisi pakaian aku jinjing dengan tangan kananku. Aku naik ke dalam gerbong KA berdesak-desakan dengan penumpang lain untuk mencari tempat duduk sesuai dengan nomornya. Tiba-tiba jalan terasa macet. Aku dan penumpang lain nggak bisa jalan terus. Saat itu posisiku berada di tengah gerbong. Tak disangka, aku merasa sesuatu menyentuh saku kanan bagian belakang tempat dompetku berada. Secara reflek aku langsung memegang sakuku tersebut. Ternyata tanganku menyentuh tangan seseorang dan itu adalah tangan pencopet yang berusaha mengambil dompetku. Aku langsung menoleh ke belakang. Pencopet itu kaget dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Dia langsung duduk di kursi sebelahnya. Aku baru sadar bahwa aku hampir saja kecopetan. Untung aku sudah mengancingkan saku celana belakangku sehingga dia kesulitan saat berusaha mengambil dompetku tadi.

Aku jadi ingat cerita temenku beberapa waktu yang lalu. Dia mengatakan bahwa Statsiun Wonokromo tempatku berangkat adalah gudangnya copet. Pencopet biasanya tidak bekerja sendiri. Mereka biasanya bekerja berkelompok dan melakukan aksinya ketika penumpang berdesak-desakan turun atau naik ke dalam gerbong. Ketika berada  di dalam gerbong, beberapa orang bertugas menghalangi jalan sehingga penumpang tidak bisa jalan terus. Saat orang-orang berdesak-desakan ingin maju, mereka melakukan aksinya. Ciri-ciri para pencopet tersebut biasanya membawa jaket atau tas yang diletakkan di depan untuk menutupi tangan mereka saat beraksi sekaligus sebagai tempat menyimpan hasil jarahannya. Kadang mereka mengoperkan hasil jarahannya ke teman yang ada di sebelahnya. Beberapa waktu yang lalu, adik yang menjadi korban. HP Nokia seharga 1,6 juta amblas dijarah pencopet.

Aku berharap dari ceritaku ini, temen-temen yang lain bisa berhati-hati dan waspada saat berada di KA atau bis, karena tempat itulah yang biasa mereka gunakan sebagai tempat operasi. Semoga ceritaku ini bisa memberikan pencerahan kepada temen-temen yang lain.


Selasa, 12 Januari 2010

Menghargai dengan Tip


Pagi itu aku bangun pagi-pagi sekali. Aku memang berencana pergi ke luar kota. Aku segera mandi dan bersiap. Setelah semua persiapan selesai, aku bergegas pergi. Aku sudah menghubungi taksi untuk menjemputku pagi itu. Waktu menunjukkan jam 04.00. Taksi datang tepat waktu. Aku pun berangkat menuju ke tempat pemberangkatan. Aku ingat pesan dari salah seorang temanku minggu lalu.
"Jangan datang terlambat ya! Ingat, bis akan berangkat jam 05.00 pagi." ucapnya waktu itu.
"Nggak perlu khawatir, aku orangnya tepat waktu kok. Kalau udah ta niatin aku pasti datang. Nggak pake telat." begitu jawabku meyakinkan dia.
Suasana masih gelap, walaupun sudah ada tanda-tanda bakal terang. Taksi meluncur dengan santainya menuju arah tujuan. Ketika aku sampai di tempat pemberangkatan, aku lihat ada banyak bis terparkir di sepanjang jalan. Kalau nggak salah hitung, ada 6 bis. Aku pun menyuruh sopir taksi untuk segera menepi.
"Pak, berhenti disini aja." kataku dengan segera.
"Iya, mas." jawab sang sopir singkat.
Taksi pun menepi dan berhenti tak jauh dari lokasi bis diparkir. Aku melihat argo taksi. Awalnya aku berpikir bakalan bayar banyak. Tapi setelah aku perhatikan argonya, ternyata nggak banyak. Maklum jarak antara rumah dengan tempat pemberangkatan lumayan jauh. Aku segera mengeluarkan uang dari dompetku. Aku sengaja membawa uang cukup banyak karena bisa jadi akan butuh di perjalanan nanti. Aku mengambil beberapa lembar uang dan aku berikan kepada sang sopir.
"Ini, pak. Kembaliannya, bapak ambil aja." kataku dengan sopan.
"Wah, makasih mas." jawab sopir tersebut dengan gembira.
Aku terbiasa memberikan tip kepada orang yang membantuku dengan baik. Paling sering aku memberi tip kepada pelayan di restoran tempat aku makan. Semakin baik dia memberikan pelayanan, semakin besar tip yang aku berikan. Sebenarnya aku mulai "belajar" memberikan tip dari teman wanitaku dulu. Setiap kali kami makan di restoran, dia selalu meningggalkan uang di atas meja, entah itu seribu, dua ribu, atau bahkan 10 ribu rupiah.
Suatu ketika kami makan bersama di salah satu restoran cepat saji di salah satu Mall di Surabaya. Saat itu kami sudah selesai makan. Aku memanggil salah satu waiter restoran.
"Mas, tolong billnya!" pintaku pada si waiter.
"Oh iya, mas. Tunggu sebentar." ujarnya.
Tak lama kemudian dia datang membawa baki dengan selembar bill di atasnya.
"Ini, mas." dia berujar.
"Ok, makasih." jawabku.
Si waiter meletakkan baki tersebut di atas meja. Aku mengambil dompet dan membayarnya. Si waiter menerimanya dan segera membawanya ke kasir. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa uang kembalian dan menyerahkannya kepadaku.
"Ini kembaliannya, pak." kata si waiter dengan sopan.
"Oh iya, makasih." kataku.
Aku pun mengambil seluruh uang kembalian tersebut. Tiba-tiba teman wanitaku mencegahku.
"Jangan diambil semua kembaliannya. Tinggalkan beberapa ribu untuk tip. Tinggalkan juga uang recehnya." begitu katanya.
Memang uang kembalian tadi ada beberapa lembar seribuan dan uang receh. Saat itu aku berusaha mendebatnya.
"Kenapa kita harus beri tip? Dia kan udah digaji." debatku sengit.
"Dia kan sudah melayani kita dengan baik. Memang sih dia udah digaji, tapi apa salahnya kita memberikan sedikit kelebihan kita sebagai penghargaan untuk pelayanannya yang baik tadi." kata temen wanitaku meyakinkanku.
Aku terpaku. Terdiam sejenak. Mencoba untuk memahami apa yang barusan dia katakan. Tiba-tiba aku tersadar, kenapa ya aku begitu pelit. Kenapa aku kurang bisa menghargai orang lain. Banyak orang yang sudah membantuku, namun aku menganggapnya biasa-biasa saja. Padahal bantuan mereka itu sebenarnya mempunyai makna yang besar untukku. Apa susahnya memberikan sedikit kelebihan yang aku miliki. Segera aku keluarkan lagi beberapa uang ribuan dan uang receh tadi. Aku letakkan uang itu di atas baki.
"Ya, udah. Ayo kita pulang." ujarku kepada teman wanitaku.
Kami pun meninggalkan resatoran tersebut. Sejak saat itu, aku selalu memberikan hadiah/tip kepada orang-orang yang membantuku.


Mengatasi "Burnout" di Tempat Kerja


KOMPAS.com - ”Burnout” adalah kondisi terperas habis dan kehilangan energi psikis maupun fisik. Biasanya hal itu disebabkan oleh situasi kerja yang tidak mendukung atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan.

T (35), perempuan bekerja, bercerita: ”Sudah dua tahun ini saya merasa banyak masalah di tempat kerja. Saya pikir saya sudah berhasil menyelesaikan kebingungan saya sendiri pada akhir tahun lalu dan bikin resolusi untuk tahun ini. Tetapi, pas akan masuk kerja, saya sudah cemas, deg-degan, perut mulas, dan diare.

Sekarang sudah beberapa hari kerja, ternyata saya masih mudah merasa capek, tidak bisa berpikir, lemas. Saya juga kaget, kok bisa lupa pada hal sangat penting yang harus segera saya bereskan. Padahal, pikir-pikir dulu saya bisa menangani banyak pekerjaan sulit dengan cepat.

Sepertinya masalahnya bermula dengan masuknya pemimpin baru di kantor kami. Dia ambisius bikin perombakan total tanpa mendengar suara orang lapangan. Sebagai orang di lini tengah, saya merasa terjepit, sulit sekali meneruskan masukan dari bawahan. Beberapa karyawan tidak dilanjutkan kontraknya dan sepertinya sekarang orang sudah tidak peduli, cuma berpikir bagaimana menyelamatkan diri.

Sebenarnya kalau saya mau gampang, saya melamar saja untuk mengisi lowongan jabatan yang lebih bagus di kantor kami, dan terserahlah unit kerja saya jadinya mau bagaimana. Sepertinya saya akan diterima karena cocok sekali kualifikasinya dengan saya. Tetapi, kekecewaan saya mungkin besar sekali, rasanya tidak ada gairah lagi di sini.

Mau keluar cari kerja di tempat lain saya masih bingung meski keinginan itu besar. Sekaligus saya juga tidak tega dengan staf lapangan di unit kerja saya yang posisinya rentan. Nanti nasib mereka bagaimana, bisa-bisa unit malah ditiadakan. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana….”

Karakteristik masalah

Tampaknya T sedang mengalami burnout yang parah dan masih berjuang keras untuk mengatasinya. T seolah mengalami situasi energi psikis habis diserap, bahkan berkekurangan dan berutang entah dari mana, untuk memberi bahan bakar bagi keberlangsungan kerjanya. Tuntutan kerja jauh melampaui ketersediaan energi yang ada.

Dalam waktu cukup lama sebagai manajer level tengah ia ingin menjalani tugas maksimal, menciptakan sikap positif, menyemangati bawahan. Tetapi, ia merasa gagal akibat tidak dapat menjadi jembatan yang baik antara atasan dan bawahan. Ia juga sekaligus menghayati banyak ketidaksetujuan dengan nilai-nilai dan pendekatan kerja atasannya, dan merasa sangat terbebani untuk memperbaiki situasi tanpa mengerti harus bagaimana.

Biasanya burnout dialami dalam bentuk kelelahan fisik, mental, dan emosional yang intens. Karena bersifat psikobiologis (beban psikologis berpindah ke tampilan fisik, misalnya mudah pusing, tidak dapat berkonsentrasi, gampang sakit) dan biasanya bersifat kumulatif, kadang persoalan tidak demikian mudah diselesaikan. Apalagi bila sumber persoalan tidak dapat dibereskan. Bahkan, seperti spiral makin melebar, hal ini mengganggu kinerja dan pada gilirannya dapat menyebabkan tambahan tekanan bagi pekerja yang lain.

Kekurangjelasan hak dan tanggung jawab kerja serta konflik peran (misalnya tuntutan kerja tidak konsisten dengan nilai-nilai yang diyakini) dapat berkontribusi. Terlebih bila ada beban berlebih, tuntutan kerja yang berat tanpa ada penghargaan atau capaian yang dirasa memadai. Sedikitnya dukungan sosial di dalam lembaga maupun dari luar lembaga serta kesulitan untuk mengambil keputusan mandiri juga dapat menjadi penyebab.

Mengatasi masalah

Yang ideal adalah bila lembaga tempat kerja bisa mengembangkan mekanisme untuk mencegah atau meminimalkan burnout, dan pemimpin memahami peran yang idealnya dijalankannya untuk membawa energi positif dan kesolidan kerja dalam timnya.

Dalam kasus T pemimpin justru menjadi pihak yang menyebabkan, atau memperparah situasi. Bila memungkinkan, T dapat mencoba berkomunikasi dengan lebih terbuka, jujur sekaligus tetap santun dengan pemimpin barunya, benar-benar mencoba berperan sebagai ”jembatan”. Ia bisa mencoba memahami visi atasan, sekaligus menjelaskan situasi nyata di lapangan agar terjadi kompromi. Tentu T harus membekali diri secara baik dengan berbagai informasi yang diperlukan serta analisisnya.

Bila bawahan memang sulit mengupayakan komunikasi yang lebih baik dengan atasan, yang dapat dilakukan tampaknya hanyalah mengembangkan mekanisme pribadi dan lingkungan kerja terdekat untuk meminimalkan atau mengatasi masalah.

-Mengelola beban kerja secara realistis, menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat segera dibereskan secara tuntas.

-Menyeimbangkan gaya hidup, seperti mengonsumsi makanan sehat, tidur dan istirahat cukup, berolahraga, dan mempertahankan koneksi dengan orang-orang dekat sebagai kelompok dukungan.

-Mengurangi ketegangan dengan berbagai cara fisik (olah napas, relaksasi, olah tubuh), menyelang-seling aktivitas stres tinggi (misalnya rapat penting, lobi) dengan aktivitas bertegangan rendah (bercakap dengan bawahan), menggunakan waktu jeda atau istirahat untuk recharge energi seperti ngobrol dengan teman dekat, nonton drama-komedi, duduk di depan kolam ikan, atau melakukan hobi.

-Menyadari atau mewaspadai tanda-tanda awal stres kerja (konflik dengan rekan dan atasan, beban berlebih) dan segera mengambil langkah mengelola atau mengatasinya.

Bila kita masih saja merasa sangat tidak nyaman dan tidak lagi terhubung dengan tempat kerja, bahkan terus berpikir ingin pergi, mungkin memang saatnya bagi kita untuk menemukan atau mengonstruksi yang baru.

Semoga kita memulai tahun 2010 dengan visi kerja yang jelas, antusiasme, dan energi besar. Kristi Poerwandari, Psikolog
(http://id.news.yahoo.com)